MISTERI CCTV SD SANTA MARIA CIREBON, TIGA VERSI DALAM SATU REKAMAN YANG HILANG

Hukum640 Dilihat

GRAGENEWS.COM, CIREBON — Kasus dugaan bullying terhadap siswa kelas 3B SD Santa Maria Cirebon kembali menyisakan pertanyaan serius. Kali ini bukan hanya soal apa yang terjadi pada 24 Juli 2026, tetapi juga mengapa rekaman CCTV pada hari tersebut justru tidak tersedia ketika dibutuhkan untuk mengurai fakta.

Yang membuat persoalan semakin menyita perhatian adalah munculnya beberapa versi penjelasan mengenai hilangnya rekaman.

Kepada orang tua, disebutkan bahwa CCTV hanya menyimpan rekaman selama tujuh hari.

Saat persoalan dikomunikasikan kepada media, muncul keterangan berbeda: CCTV disebut mengalami error atau kerusakan.

Dalam pertemuan yang turut menghadirkan teknisi, muncul lagi penjelasan lain, yakni persoalan koneksi Wi-Fi, IP address hingga baterai.

Tiga penjelasan. Satu persoalan. Satu rekaman yang tidak tersedia.

Di sinilah pertanyaan publik menjadi wajar: sebenarnya apa yang terjadi pada sistem CCTV pada 24 Juli 2026?

Jika benar karena kapasitas penyimpanan, berapa kapasitas perangkat dan bagaimana sistem melakukan overwrite?

Jika karena kerusakan, kapan kerusakan terjadi dan apakah terdapat catatan pemeliharaan atau laporan gangguan?

Jika karena jaringan, IP address atau baterai, apakah kamera berhenti merekam atau hanya rekamannya yang tidak dapat diakses?

Sebab “rekaman tidak ada” berbeda dengan “rekaman ada tetapi tidak dapat diakses.”

Perbedaan itu bukan perkara kecil. Jawabannya dapat menentukan bagaimana publik memahami persoalan sebenarnya.

BUKAN MENUDUH, TAPI HARUS BISA DIBUKTIKAN

Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa rekaman tersebut sengaja dihilangkan.

Namun, justru karena belum ada kesimpulan, maka pemeriksaan teknis yang transparan menjadi penting.

Log sistem, konfigurasi penyimpanan, riwayat gangguan, catatan teknisi, kondisi perangkat dan sistem perekaman semestinya dapat diperiksa untuk menjawab satu pertanyaan sederhana:

Mengapa rekaman 24 Juli 2026 tidak tersedia?

Jangan sampai persoalan teknis berubah menjadi perang narasi.

Sekolah berhak memberikan penjelasan. Orang tua berhak meminta kejelasan. Teknisi harus mampu menerangkan aspek teknis. Media berkepentingan menguji informasi.

Tetapi pada akhirnya, bukti teknis harus berbicara lebih keras daripada pernyataan.

JANGAN SAMPAI CCTV MENJADI TITIK BUTA

Persoalan ini juga tidak boleh membuat pembahasan mengenai kondisi anak bergeser menjadi sekadar perdebatan soal ada atau tidaknya luka fisik.

Hasil pemeriksaan medis harus dibaca sesuai fungsi dan kewenangannya. Kondisi psikologis anak pun harus dinilai melalui asesmen pihak yang kompeten.

Tidak adanya luka fisik tidak otomatis menyelesaikan seluruh dugaan perundungan. Namun kondisi psikologis juga tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan suatu dugaan telah terbukti.

Semua harus diuji melalui kronologi, keterangan, bukti dan pemeriksaan yang objektif.

TIGA VERSI HARUS BERUJUNG PADA SATU FAKTA

Publik tidak membutuhkan tiga cerita.

Publik membutuhkan satu penjelasan yang dapat diverifikasi.

Jika CCTV memang mengalami gangguan, tunjukkan kapan gangguan terjadi.

Jika penyimpanan hanya tujuh hari, tunjukkan konfigurasi sistemnya.

Jika perangkat rusak, tunjukkan hasil pemeriksaannya.

Jika rekaman sebenarnya tersimpan tetapi tidak dapat diakses, jelaskan di mana letak persoalannya.

Sebab yang sedang dipertanyakan bukan sekadar sebuah perangkat elektronik.

Yang dipertaruhkan adalah kejelasan fakta dalam perkara yang menyangkut seorang anak.

Dan semakin lama perbedaan penjelasan dibiarkan tanpa pembuktian teknis, semakin besar pula pertanyaan publik:

Apa sebenarnya yang terjadi pada rekaman CCTV 24 Juli 2026?

Dugaan bullying dan tidak tersedianya rekaman CCTV tersebut masih memerlukan verifikasi serta klarifikasi dari pihak terkait. Perbedaan keterangan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kesengajaan maupun pelanggaran.

HISAM