Gragenews.com, CIREBON – Keluarga Besar Pondok Pesantren Kebon Syarif Cibogo, Kota Cirebon, menggelar Haul Tuan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Tahun 2026 M/1448 H, Rabu malam Kamis (23/9/2026).
Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung di Masjid Kramat Syaikh Anwaruddin Kriyan, lingkungan Pondok Pesantren Kebon Syarif, Kampung Cibogo RT 002/RW 009, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.
Pelaksanaan haul dihadiri ratusan jamaah yang datang dari berbagai kalangan. Sejak rangkaian kegiatan dimulai, suasana di lingkungan pesantren tampak dipenuhi jamaah yang mengikuti acara dengan tertib dan penuh kekhusyukan 
Rangkaian kegiatan diawali setelah pelaksanaan salat Isya berjamaah. Sebelum memasuki acara puncak, para jamaah dan tamu undangan disuguhkan pertunjukan seni Gembyung, salah satu kesenian tradisional yang keberadaannya kini semakin jarang ditemui.
Penampilan seni Gembyung menjadi bagian dari rangkaian acara sekaligus menghadirkan nuansa tradisi lokal dalam pelaksanaan haul. Selain memberikan warna tersendiri bagi kegiatan, pertunjukan tersebut juga menjadi momentum untuk turut mengenalkan,dan,menjaga keberlangsungan seni tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat,Cirebon
Setelah pertunjukan seni Gembyung, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara puncak berupa marhabanan, tahlil, dzikir, dan doa yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB hingga selesai. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekhusyukan.
Doa dalam rangkaian Haul Tuan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani tersebut dipimpin oleh Kyai H. Muayad bin Kyai Zaini Dahlan dari Benda Kerep. Lantunan doa dan dzikir bersama menjadi bagian utama kegiatan sebagai bentuk
penghormatan sekaligus mengenang perjuangan, keteladanan, serta jasa para ulama dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Haul tahunan tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antara keluarga besar pesantren, masyarakat, para ulama, tokoh agama, serta sejumlah tokoh yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pangeran Raja Abdul Ghani Natadiningrat. 
Kehadiran Pangeran Raja Abdul Ghani Natadiningrat turut menambah semarak kegiatan haul yang tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi, nilai spiritual, serta warisan budaya dan keislaman yang berkembang di tengah masyarakat Cirebon.
Sesepuh Pondok Pesantren Kebon Syarif, KH. AM. Ma’dun bin Mbah Suyuti, bersama jajaran panitia turut hadir dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kepanitiaan haul diketuai Muhammad Ma’sum, dengan Abdullah Bunyamin sebagai sekretaris.
Salah satu bentuk perhatian panitia kepada para jamaah yang hadir diwujudkan melalui pembagian bingkisan berkat setelah seluruh rangkaian acara selesai. 
Setiap jamaah yang hadir mendapatkan bingkisan berupa ember dan keranjang plastik yang di dalamnya berisi makanan untuk dibawa pulang. Bingkisan tersebut antara lain berisi nasi lengkap dengan lauk olahan daging ayam, sayuran, serta snack.
Pembagian berkat tersebut menjadi bagian dari tradisi kebersamaan dalam kegiatan haul. Selain sebagai bentuk berbagi, bingkisan tersebut juga menjadi buah tangan bagi para jamaah yang telah mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.
Pelaksanaan haul berlangsung tertib, lancar, dan penuh kekhidmatan. Para jamaah mengikuti setiap tahapan kegiatan dengan suasana penuh kebersamaan, mulai dari salat Isya berjamaah, penampilan seni Gembyung, hingga marhabanan, tahlil, dzikir dan doa.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Kebon Syarif, pelaksanaan haul menjadi momentum penting untuk terus merawat tradisi keagamaan sekaligus memperkuat tali silaturahmi antara ulama, keluarga pesantren, tokoh masyarakat, dan warga.
Perpaduan antara rangkaian keagamaan, pelestarian seni tradisional, serta tradisi berbagi melalui bingkisan berkat memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan haul tahun ini. Tradisi keagamaan dan warisan budaya lokal berjalan beriringan dalam satu kegiatan yang berlangsung di lingkungan pesantren.
Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar Pondok Pesantren Kebon Syarif berharap tradisi haul dan majelis dzikir dapat terus menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat silaturahmi, serta mengingat kembali keteladanan para ulama dan tokoh yang telah berjasa dalam perkembangan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.
Tradisi haul diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga warisan keagamaan dan kebudayaan, mempererat hubungan antargenerasi, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Cirebon.
MOH ANDRI


